Suaka Margasatwa dan Cagar Alam

Rabu, 26 Januari 2011

SUAKA MARGASATWA 



 

 

SESUAI dengan namanya, kawasan konservasi dalam bentuk suaka margasatwa (game sanctuary) ditujukan untuk memperlindungi satu atau beberapa jenis satwa tertentu, di dalam habitat aslinya. Suaka margasatwa adalah kawasan yang dibuat untuk menjaga kelestarian satwa yang berstatus terancam (threatened), langka (rare), rawan (vulnerable), dan terkikis (indeterminate). Satwa dengan status terancam dan langka pada umumnya disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain karena daerah sebarannya yang terbatas, atau hanya hidup setempat; karena tingkat reproduksi yang lambat dan rendah; variasi pakan yang terbatas dan spesifik; kemampuan adaptasi yang rendah terhadap perubahan; atau kemungkinan jenis bersangkutan bersifat monotipik. Sedangkan untuk jenis satwa yang berstatus rawan atau terkikis, umumnya disebakan oleh faktor ancaman kerusakan habitat atau eksploatasi yang terus-menerus, seperti perburuan atau pembasmian. Di luar jenis satwa yang status aman (out of danger), ternyata masih jauh lebih banyak lagi jenis satwa atau tumbuhan yang tidak dapat ditempatkan pada salah satu status tadi, karena kemungkinan jenis tersebut tidak pernah memperoleh perhatian, sehingga tidak dimiliki data konservasi sedikitpun. Jenis seperti ini dapat dikategorikan sebagai jenis yang terabaikan (inattentionable), ataupun least concerned. Suatu jenis satwa yang telah menempati status, dapat berubah statusnya ke status lain karena faktor-faktor internal maupun eksternal – dari aman menjadi terancam, langka, rawan atau terkikis, ataupun sebaliknya.

Menyimak cukup tinggi dan sangat beragamnya satwa Indonesia, baik yang menghuni daratan maupun perairan, maka memang dibutuhkan perhatian yang serius dalam rangka konservasi jenis dan habitat. Kesulitan akan dihadapi apabila jenis satwa yang membutuhkan perlindungan tersebut memiliki daerah jelajah (range) yang luas, atau karena bersifat migratoar. Beberapa jenis burung, misalnya burung perancah (wader), cukup sulit untuk dipertahankan hanya di dalam sebuah kawasan tertentu. Oleh karena itu, aspek-apek yang perlu menjadi perhatian dalam rangka pelestarian satwa seperti ini adalah dengan menjaga tempat-tempat yang digunakan untuk mencari pakan, bersarang, atau transit secara permanen setelah melakukan ruaya-jenis.

Kebanyakan satwa Indonesia yang tergolong mamalia besar, primata, burung, atau reptil saat ini mengalami kemerosotan jumlah, sehingga dibutuhkan konservasi in-situ yang memadai dalam bentuk suaka margasatwa. Namun demikian, penetapan suatu kawasan sebagai suaka tidaklah cukup, karena yang tidak kalah pentingnya adalah melindungi keberadaan suaka yang sudah ditetapkan. Banyak kawasan konservasi saat ini sudah ditetapkan, tetapi masih penuh dengan ancaman dari luar, terutama efek-tepi (marginal effects). Pembalakan, perburuan, pemboman, penjeratan dan bahkan penggunaan racun, masih dilakukan di berbagai kawasan suaka, bukan hanya di bagian tepi, tetapi sampai di area inti.

Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), badak Sumatra (Dicerorhinus sumatrensis), harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae), macan tutul (Panthera pardus melas), macan dahan (Neofelis diardi), Bekantan (Nasalis larvatus), orangutan (Pongo pygmaeus dan Pongo abelii), Anoa (Bubalus depressicornis dan Bubalus quarlesi), babirusa (Babyrousa babyrussa), dan masih banyak lainnya, merupakan mamalia yang membutuhkan kawasan-kawasan khusus yang luas. Sementara burung, juga semakin banyak mengalami ancaman, seperti jalak Bali (Leucopsar rothschildi), tiga jenis kasuari (Casuarius sp.), kakatua hitam (Probosciger aterrimus), burung-burung cenderawasih (Paradiseidae), dan lainnya juga membutuhkan kawasan perlindungan yang memadai. Buaya-buaya dan senyulong Indonesia (Crocodilus sp. dan Tomistoma schelegelii), lebih menderita, bukan hanya persoalan habitat yang semakin langka, juga karena sumber pakan yang sudah semakin pupus.

Beberapa species satwa sudah menghuni taman nasional, cagar alam, hutan lindung, dan sebagainya, namun perlu ada perluasan kawasan-kawasan suaka pada beberapa lokasi. Seharusnya, setiap wilayah provinsi di Indonesia memiliki kawasan konservasi paling kurang 40 % dari luas total wilayahnya. Hutan lindung sebenarnya cukup baik untuk menjadi wadah perlindungan, tetapi hutan lindung bukan untuk konservasi genetika, melainkan untuk pelestarian fungsi-fungsi ekologis yang mengarah pada sistem hidro-orologis, mikroklimasi, kesuburan tanah, pencegahan longsor dan banjir, cadangan air, dan sebagainya. Karena itu, hutan lindung tidak memokus pada kekayaan jenis yang ada, sebab biarpun hanya 10-20 jenis tumbuhan yang ada di dalamnya, dan satwanya ada atau tidak ada, apabila formasinya sudah permanen, maka dapat ditetapkan sebagai hutan lindung.

Dalam rangka mendukung pelestarian satwa di Indonesia, sampai dengan tahun 2008, baru ditetapkan suaka margasatwa sebanyak 73 lokasi dengan luas total 5.422.922,79 hektar.

DAFTAR SUAKA MARGASATWA YANG TELAH DITETAPKAN DI NDONESIA:

ALE ASISIO – Suaka Margasatwa
NUSA TENGGARA TIMUR, Timor Tengah Selatan, 5.918,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 423/Kpts-II/1999, 15 Juni 1999.
AMOLENGO, Tanjung – Suaka Margasatwa
SULAWESI TENGGARA, Kendari, 605,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 95/Kpts-II/1999, 2 Maret 1999.
ANGKE, Muara – Suaka Margasatwa
DKI JAKARTA, Jakarta Utara, 25,02 ha, Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor: 097/Kpts-II/1988, 29 Februari 1988.
ANGROMEOS – Suaka Margasatwa
PAPUA TENGAH, Paniai, 2.086,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 891/Kpts-II/1999, 14 Oktober 1999.
BAKIRIANG – Suaka Margasatwa
SULAWESI TENGAH, Banggai, 12.500,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor: 398/Kpts-II/1998,21 April 1998.
BALAI RAJA – Suaka Margasatwa
RIAU, Bengkalis, 18.000,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor: 173/Kpts-II/1986, 6 Juni 1986.
BARUMUN – Suaka Margasatwa
SUMATERA UTARA, Tapanuli Tengah, 40.330,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor: 70/Kpts-II/1989, 2 Juni 1989.
BATIKOLO, Tanjung – Suaka Margasatwa
SULAWESI TENGGARA, Kendari, 4.016,00 ha, Kepututusan Menteri Kehutanan RI Nomor: 425/Kpts-II/1995, 16 Agustus 1995.
BATU, Bukit – Suaka Margasatwa
RIAU, Bengkalis, 21.500,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor: 482/Kpts-II/1999, 29 Juni 1999.
BAUN, Pulau – Suaka Margasatwa
MALUKU, Maluku Tenggara, 13.000,00 ha, Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor: 711/Kpts/Um/11/74, 25 November 1974.
BAWEAN – Suaka Margasatwa
JAWA TIMUR, Surabaya, 3.831,60 ha, Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor: 762/Kpts/Um/5/79, 12 Mei 1979.
BELAT, Tasik – Suaka Margasatwa
RIAU, Bengkalis, 2.529,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor: 480/Kpts-II/1999, 29 Juni 1999.
BENTAYAN – Suaka Margasatwa
SUMATERA SELATAN, Banyuasin, 19.300,00 ha, Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor: 276/Kpts/Um/4/81, 6 April 1981.
BESAR–BAWAH, Danau Pulau – Suaka Margasatwa
RIAU, Bengkalis, 28.237.95,00 ha, Keputusan Men-hutbun Nomor: 668/Kpts-II/1999, 26 Agustus 1999.
BESAR–METAS, Tasik – Suaka Margasatwa
RIAU, Indragiri Hilir, 3.200,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor: 173/Kpts-II/1986, 6 Juni 1986
BUTON UTARA – Suaka Margasatwa
SULAWESI TENGGARA, Muna, 82.000,00 Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor: 782/Kpts/Um/12/79, 17 Desember 1979.
CIKEPUH – Suaka Margasatwa
JAWA BARAT, Sukabumi, 8.127,50 ha, Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor: 532/Kpts/Um/10/73, 20 Oktober 1973.
DANGKU – Suaka Margasatwa
SUMATERA SELATAN, Musi Banyuasin, 70.274,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor: 755/Kpts-II/1990, 17 Februari 1990. Tambahan kawasan seluas 31.752,00 ha sesuai dengan Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor: 76/Kpts-II/2001, 15 Maret 2001 – jadi luas total 102.326,00 ha.
DOLANGAN – Suaka Margasatwa
SULAWESI TENGAH, Buol Toli-Toli, 462,00 ha, Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor: 441/Kpts/Um/5/81, 21 Mei 1981.
DOLOK, Pulau – Suaka Margasatwa
PAPUA TIMUR, Merauke, 664.627,97 ha, Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor: 305/Kpts-II/1998, 27 Februari 1998.
FOJA – Suaka Margasatwa
PAPUA TIMUR, Jayapura, 1.018.000,00 ha, Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor: 782/Kpts/ Um/10/1982, 21 Oktober 1982. Tambahan kawasan seluas 1.000.000,00 ha sesuai dengan Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor: 820/Kpts/Um/11/82, 10 November 1982 – jadi luas total 2.018.000,00 ha.
GAJAH, Pusat Pelatihan – Suaka Margasatwa
RIAU, Bengkalis, 5.000,00 ha, Keputusan Gubernur Riau Nomor: 387/VI1992, 26 Juni 1992.
GIAM SIAK KECIL – Suaka Margasatwa
RIAU, Bengkalis, 50.000,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor: 173/ Kpts-II/1986, 6 Juni 1986.
GUMAI PASEMAH – Suaka Margasatwa
SUMATERA SELATAN, Lahat, 45.883,00 ha, Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor: 408/Kpts/Um/6/76, 30 Juni 1976.
HARLU – Suaka Margasatwa
NUSA TENGGARA TIMUR, Kupang, 2.000,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor: 84/Kpts-II/1993,16 Februari 1993.
ISAU-ISAU PASEMAH – Suaka Margasatwa
SUMATERA SELATAN, Lahat, Liot, 12.144,00 ha, Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor: 69/Kpts/Um/2/78, 7 Februari 1978.
JAMURSBA MEDI – Suaka Margasatwa Laut
PAPUA BARAT, Manokwari, 278,25 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI No-mor : 891/Kpts-II/1999, 14 Oktober 1999.
JAYA WIJAYA – Suaka Margasatwa
PAPUA TIMUR, Jayawijaya, 800.000,00 ha, Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor: 914/ Kpts/Um/10/81, 30 Oktober 1981.
KAGET, Pulau – Suaka Margasatwa
KALIMANTAN SELATAN, Barito Kuala, 85,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor:337/Kpts-II/1999, 27 September 1999.
KARAKELANG UTARA-SELATAN – Suaka Margasatwa
SULAWESI UTARA, Sangihe Talaud, 24.669,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 97/Kpts-II/2000, 22 Desember 2000.
KARANGGADING-LANGKAT TIMUR LAUT – Suaka Margasatwa
SUMATERA UTARA, Langkat, Deli Serdang, 15.765,00 ha, Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor: 811/Kpts/Um/11/80, 5 November 1980.
KASSA, Pulau – Suaka Margasatwa Laut
MALUKU, Maluku Tengah, 2.000,00 ha, Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor: 653/Kpts/Um/10/78, 25 April 1978.
KATERI – Suaka Margasatwa
NUSA TENGGARA TIMUR, Belu, 4.560,00 ha, Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor: 394/Kpts/Um/5/81, 5 Juli 1981.
KERUMUTAN – Suaka Margasatwa
RIAU, Kampar, Indragiri Hulu, 120.000,00 ha, Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor: 350/Kpts/Um/6/79, 14 Maret 1979.
KOBROR, Pulau – Suaka Margasatwa
MALUKU, Maluku Tenggara, 61.657,75 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 415/Kpts-II/1999, 15 Juni 1999.
KOMARA – Suaka Margasatwa
SULAWESI SELATAN, Takalar, 3.390,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor: 147/Kpts-II/1987,19 Februari 1987.
KOMOLON – Suaka Margasatwa
PAPUA TIMUR, Merauke, 84.130,40 ha, Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor: 820/Kpts/Um/11/82, 10 November 1982.
LAMANDAU – Suaka Margasatwa
KALIMANTAN TENGAH, Kotawaringin Barat, 76.110,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor: 162/Kpts-II/1998, 26 Februari 1998.
LAMBUSANGO – Suaka Margasatwa
SULAWESI TENGGARA, Buton, 28.510,00 ha, Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor: 639/Kpts/Um/9/82, 1 September 1982
LAMPOKO-MAMPIE – Suaka Margasatwa
SULAWESI BARAT, Polewali Mandar, 2.000,00 ha, Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor: 699/Kpts/Um/11/78, 13 November 1978.
LOMBUYAN I/II – Suaka Margasatwa
SULAWESI TENGAH, Banggai, 3.069,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 124/Kpts-II/1999, 5 Maret 1999.
LUPAK-NUSA GEDE PANJALU, Kuala – Suaka Margasatwa
KALIMANTAN SELATAN, Barito Kuala, 3.375,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 453/Kpts-II/1999, 17 Juni 1999.
MANEMBO-NEMBO, Gunung – Suaka Margasatwa
SULAWESI UTARA, Minahasa, 6.500,00 ha, Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor: 441/Kpts/Um/7/78, 16 Juli 1978.
MANUK, Pulau – Suaka Margasatwa
MALUKU, Maluku Tengah, 100,00 ha, Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor: 444/Kpts/Um/5/81, 25 Mei 1981.
MATOP-PINJAM, Tanjung – Suaka Margasatwa
SULAWESI TENGAH, Buol Toli-toli, 1.612,50 ha, Kepu-tusan Menteri Pertanian RI Nomor: 445/Kpts/Um/5/81, 21 Mei 1981.
MUBRANI-SIDEI-WIBAIN I/II, Tanjung – Suaka Margasatwa
PAPUA BARAT, Manokwari, 9.142,63 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 891/Kpts-II/1999, 14 Oktober 1999.
NANTU – Suaka Margasatwa
GORONTALO, Gorontalo, Nantu, 31.215,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 573/Kpts-II/1999, 22 Juli 1999.
PADANG, Tasik Tanjung – Suaka Margasatwa
RIAU, Bengkalis, 4.925,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor: 349/Kpts-II/1999, 26 Mei 1999.
PAGAI SELATAN – Suaka Margasatwa
SUMATERA BARAT, Pesisir Selatan (Kepulauan Mentawai), 4.000,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 422/Kpts-II/1999, 15 Juni 1999.
PALIYAN – Suaka Margasatwa
DI YOGYAKARTA, Gunung Kidul, 615,60 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 171/Kpts-II/2000, 20 Desember 2000.
PATI-PATI – Suaka Margasatwa
SULAWESI TENGAH, Banggai, 3.103,79 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 239/Kpts-II/1999, 27 April 1999.
PEROPA, Tanjung – Suaka Margasatwa
SULAWESI TENGGARA, Kendari, 38.937,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor: 393/Kpts-II/1986, 23 Desember 1986.
PLEIHARI-TANAH LAUT – Suaka Margasatwa
KALIMANTAN SELATAN, Tanah Laut, 6.000,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor: 695/Kpts-II/1991, 10 November 1991.
RAJA AMPAT, Kepulauan – Suaka Margasatwa Laut
PAPUA BARAT, Fakfak, 60.000,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor: 81/Kpts-II/1993, 16 Februari 1993.
RAMBUT, Pulau – Suaka Margasatwa
DKI JAKARTA, Jakarta Utara, 90,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 275/Kpts-II/1999, 7 Mei 1999.
RAYA, Gunung – Suaka Margasatwa
SUMATERA SELATAN, Ogan Komering Ulu, 39.500,00 ha, Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor: 55/Kpts/Um/2/78, 7 Februari 1978.
RIMBANG-BALING, Bukit – Suaka Margasatwa
RIAU, Kampar, 136.000,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor: 173/Kpts-II/1986, 6 Juni 1986
SABUDA TATARUGA – Suaka Margasatwa Laut
PAPUA BARAT, Fakfak, 5.000,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor: 82/Kpts-II/1993, 16 Februari 1993.
SANTIGI – Suaka Margasatwa
SULAWESI TENGAH, Donggala, 1.131,25 ha, Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor: 50/Kpts-VII/1987, 25 Februari 1987.
SAWAL, Gunung – Suaka Margasatwa
JAWA BARAT, Ciamis, 5.400,00 ha, Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor: 420/Kpts/Um/6/79, 4 Juni 1979.
SEMAMA, Pulau – Suaka Margasatwa
KALIMANTAN TIMUR, Berau, 220,00 ha, Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor: 604/Kpts/Um/8/82, 19 Agusutus 1982.
SENDANGKERTA – Suaka Margasatwa
JAWA BARAT, Tasikmalaya, 90,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan RI.Nomor: 6964/Kpts-II/2002, 17 Januari 2002.
SERKAP-SARANG BURUNG, Tasik – Suaka Margasatwa
RIAU, Indragiri Hilir (Pelalawan), 6.900,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor: 173/Kpts-II/1986, 6 Juni 1986.
SINGKIL, Rawa – Suaka Margasatwa
NANGROE ACEH DARUSSALAM, Aceh Selatan, 102.500,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor: 166/Kpts-II/1998, 26 Februari 1998.
SIRANGGAS – Suaka Margasatwa
SUMATERA UTARA, Tapanuli Tengah, 5.657,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor: 70/Kpts-II/1989, 2 Juni 1989.
SUGIHAN, Padang – Suaka Margasatwa
SUMATERA SELATAN, Musi Banyuasin, 75.000,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor: 004/Kpts-II/1983, 19 April 1983.
SURUNGAN, Dolok – Suaka Margasatwa
SUMATERA UTARA, Tapanuli Utara, 23.800,00 ha, Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor: 43/Kpts/Um/2/74, 2 Februari 1974.
TAMBORAN SELATAN – Suaka Margasatwa
NUSA TENGGAR BARAT, Dompu, 21.674,68 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 418/Kpts-II/1999,15 Juni 1999.
TANIMBAR – Suaka Margasatwa
MALUKU, Maluku Tenggara, 65.671,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor: 249/Kpts-II/1985, 11 September 1985.
TUADALE, Danau – Suaka Margasatwa
NUSA TENGGARA TIMUR, Kupang, 500,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor: 195/Kpts-II/1993 27 Februari 1993.
TUNGGANGAN, Gunung – Suaka Margasatwa
JAWA TENGAH, Sragen, 103,90 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 435/Kpts-II/1999, 15 Juni 1999.
VENU, Pulau – Suaka Margasatwa
PAPUA BARAT, Fakfak, 16.320,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 891/Kpts-II/1999, 14 Oktober 1999.
YANG, Dataran Tinggi – Suaka Margasatwa
JAWA TIMUR, Jember, Probolinggo, 14.145,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 417/Kpts-II/1999, 15 Juni 1999.

0 komentar:

Poskan Komentar